Selasa, 31 Juli 2018

Silaturahim ke Keluarga Mama di Lupak Dalam, Kab. Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah

Halloo sobat, apa kabar?
Kali ini aku sedang ada di Kereta Api Pasundan, perjalanan menempuh Sragen, Jateng. Jangan ditanya ngapain dan sama siapa, jelas sendirian :"( dan karena si pengangguran ini ga ada kerjaan. Karena aku sudah mulai bosan membaca buku dan melihat pemandangan di luar, aku mencoba menghilangkan kebosanan ini dengan menulis ceritaku silaturahim ke keluarga mamaku di Lupak Dalam, Kalimantan Tengah :D

Liburan semester genap memang sangat menggembirakan. Setelah lama tak bersua dengan keluarga karena memang kita sebagai anak rantau, ditambah lagi kesibukan kuliah dan kegiatan non akademis lainnya, inilah waktu yang sangat baik untuk sejenak merehatkan jiwa dan pikiran berkumpul dengan keluarga di rumah.

Sebenarnya rencana awal, kami akan silaturahim ke saudara nini ku (nenek) di Amuntai, Kab. Hulu Sungai Utara, Kalsel, karena beliau akan menunaikan haji sabtu depannya. Ya, manusia bisa berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan. Tiba-tiba saja, malamnya, tanteku yang akan bepergian bersama, mendapat miscall sebanyak 5 kali dari keluarga di Lupak Dalam, ternyata ada salah satu dari keluargaku yang meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un..

Karena merasa tidak nyaman tidak mengangkat telpon sebanyak 5 kali, akhirnya tanteku menyarankan agar besok dibatalkan saja ke Amuntai. Lalu akhirnya diputuskan untuk mendatangi keluarga yang meninggal dunia tadi di Lupak Dalam, Kalteng.

Aku sendiri sudah lama banget ngga berkunjung ke Lupak. Seingatku dulu aku masih kecil banget kesana, apakah sudah ada adekku yang paling kecil si Salma atau belum. Kalau belum berarti sewaktu aku sekolah tk terakhir kesana, kalau udah ada adekku Salma berarti sewaktu aku sd kelas 1 atau 2 an wkwkw artinya sudah belasan tahun udah ngga kesini.

Cerita sedikit, dulu waktu kecil itu, kami menginap di almh.saudara mamanya nenek ku, anggapannya tantenya nenekku, jadi mbah buyut-nya aku, di atas nenek, sebutannya Datuk kalau di Banjar. Dulu almh hidup sendiri. Di daerah yang menurutku sangat terpencil, TANPA LISTRIK, jadi cuman pake lampu tembok, dan sumber air hanya bergantung dari sungai, air minum pun dari air sungai. Jadi aku masih inget banget dulu kami ke sana naik kelotok selama hampir 4 jam, dan akses jalan darat masih belum ada. Ada mungkin tapi hanya jalan setapak.

Setelah belasan tahun rentang waktu, keadaannya sudah lumayan membaik, sekarang listrik sudah ada, meskipun PDAM sepertinya belum menjangkau, sehingga masih menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari. Namun, untuk urusan infrastrukturnya menurutku lumayan diperhatikan pemerintah setempat, buktinya kami ke sini naik mobil pun sudah bisa. Mungkin sekitar 3 jam akhirnya kami sampai. Tetapi jelas, jangan dibayangkan jalan yang super mulus ya sob wkwk jalannya sangat-sangat rusak! Dan mengerikan.

Mungkin ini lah yang pak Jokowi pikirkan saat membuat vlog, mungkin kalian bisa cek sendiri di channel beliau, tentang betapa sangat perlunya infrastruktur untuk kemajuan Indonesia yang lebih baik lagi. Bayangkan aja, dulu kesini harus naik kelotok dulu 4 jam, itupun kalau kelotok cepat, lha semisal kelotoknya lambat bisa berapa jam sampai Banjarmasin. Semisal ada warga yang sakit  untuk meminta pertolongan medis atau untuk membeli keperluan sembako dan sebagainya, setidaknya dengan adanya jalur darat, lebih memudahkan akses penduduk setempat.

Kalau dilihat dari Gmap, Lupak Dalam berada
di daerah tepi ujung Pulau Kalimantan
Kami berangkat pagi pukul 7 Wita, dan sampai disana sekitar pukul 10 wita. Kami langsung menuju kediaman rumah duka dan bersalaman. Di balik duka tersebut, mungkin keluarga mama juga senang atas kehadiran kami disana. Keluarga mama menunjukkan senyum yang bahagia saat kami datang ke rumahnya, tentunya meskipun tak bisa dipungkiri, duka mereka tetap tampak.

Setelah jenazah dibawa ke masjid untuk disholatkan dan segera dikuburkan, aku dan julak ku (julak dalam bahasa Banjar sama dengan pakdhe/budhe, kakanya mamaku), berjalan ke ujung hulu, melihat rumah datuk Dayah bahari waktu aku kecil tidur disana. Rumah tersebut sekarang sudah tidak bersisa satupun, sudah hancur. Aku yang waktu itu tidak membawa hp saat berjalan ke hulu, sangat disayangkan memang.

Setelah itu pun kami kembali ke rumah duka untuk memakan serabi. Memang begitu budaya Banjar, kalau ada orang yang meninggal, lalu setelah dimakamkan, para pelayat setelah ikut membantu/mengantar ke pemakaman akan kembali lagi ke rumah duka untuk pembacaan doa selamat dan memakan suguhan kue serabi.

Setelah berdoa dan makan kue serabi berkuahkan gula merah cair dan santan, mamaku mengajak bersilaturahim ke keluarga mamaku yang lain, yaitu ke sepupu mamaku yang katanya mama sangat dekat dengan beliau, karena dulu sewaktu mama kecil, selalu bermain dan menginap di rumah beliau. Kali ini aku tak mau melewatkan sesi memotret, hahah untungnya mamaku bawa hp, jadi kupinjam dulu yaa maa.




Seperti yang kalian lihat, rumah-rumah di kalimantan itu rata-rata dibuat dengan tiang-tiang kayu di bawahnya, tidak seperti rumah2 di Jawa yang langsung nemplok tanah, karena memang kalau di Banjarmasin tanahnya rawa, dan kalau di Lupak sini bisa dilihat bangunannya ada yang dibangun di sisi tepi sungai. 

Aku sebenarnya juga ngga biasa, untuk masalah yang satu ini nih, mau pipis, ataupun cebok, disini wc nya bukan wc, tapi namanya adalah 'Jamban'. 

Kotak kecil itu dinamakan jamban, closet jongkoknya langsung papan kayu yang dilubangin dan langsung nyemplung ke sungai
Untuk mandi, cuci baju, cuci piring, dan sebagainya, juga menggunakan air sungai sob. Dan yaa tadi, moga aja ngga ada kuning-kuning yang larut di sungai pas ngambil air wkwkwk.


Tentunya, meskipun sudah ada jalur darat, sebagian besar penduduk sekitar masih bepergian menggunakan perahu. Jadi kalau di kalimantan itu, kalau perahu nya tanpa mesin dan kecil, itu namanya jukung, tapi kalau perahunya ada mesinnya dan ukuran perahunya lumayan banyak bisa menampung orang atau barang, itu namanya kelotok.

Di desa ini ternyata ada pembuatan kelotok

Kelotok

Sekian dulu artikel blog kali ini, terima kasih sudah membaca sampai akhir.

Salam,

Winda Nur Azizah










Tidak ada komentar:

Posting Komentar